MAKALAH
DASAR-DASAR
FILSAFAT
“MASALAH
JIWA”
Dosen pembimbing : Bambang Setyobudi, SE, M

KELOMPOK 10
1.
SARIF
IDIGANIR (2313028)
2.
ACHMAD
JOUHARI (7311007)
3.
BAIQ AYU IDA KHOLIDA (7311044)
4.
ISWATUN HASANAH (7311027)
PRODI S1 PENDIDIKAN
DAN SASTRA
FAKULTAS BAHASA
DAN SASTRA
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG 2014
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang lebih mulia selain ungkapan
puji syukur alhamdulillah kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Karena berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah DASA-DASAR
FILSAFAT tentang “MASALAH JIWA” ini
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan guna memenuhi tugas yang diberikan
oleh Bambang Setyobudi, SE, M, selaku dosen pembimbing ini.
Tidak lupa pula kami mengucapkan terima
kasih kepada referensi, buku dan media massa yang berhubungan dengan system
endokrin yang telah membantu dalam penyusun makalah ini hingga selesai dan juga
kami ucapkan banyak terima kasih atas pemberian tugas ini, karena kami dapat
lebih memahami. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami
sendiri dan para pembaca pada umumnya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang sifatnya membangun dan para pembaca sehingga dapat membantu kearah
perubahan yang lebih baik di kemudian hari.
Jombang,
Maret 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................
A.
Latar belakang..........................................................................................................
B.
Rumusan masalah....................................................................................................
C.
Tujuan.......................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................
A.
Pengertian Jiwa........................................................................................................
B.
Pengertian Jiwa dan Raga........................................................................................
C.
Macam dan Jenis Jiwa .............................................................................................
BAB III KESIMPULAN
DAN SARAN..........................................................................................
A. Kesimpulan............................................................................................................
B. Saran .....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengertian jiwa acap kali
menjadi masalah bagi seseorang yang sering mencobah menelusuri dengan berbagai
cara seperti kesibukan ibadah, berpikir atau bertapa untuk mencari kebenaran
tentang masalah jiwa. Namun terkadang, setelah berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun mencari tentang masalah jiwa belum juga dipahami, karena jiwa
sangatlah halus untuk kita ketahui.
Pengertian jiwa terkait
dengan sifat. Seperti yang kita ketahui, bahwa sifat merupakan hal yang paling
menonjol di dalam kehidupan manusia. Namun sifat tersebut tidak dapat kita
lihat, tetapi dapta kita pahami. Untuk memahami pengertian tentang jiwa memang
tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak cukup jika kita hanya kesibukan
beribadah, bertapa, maupun berpikir, sebab pengetahuan tentang jiwa akan
terungkap jika kita selalu mempraktekan sifat-sifat yang baik.
Oleh karena itu, kami
sebagai kelompok 10 mencoba menyusun suatu pengetahuan mengenai bagaimana
mengidentifikasikan masalah jiwa.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa itu definisi pengertian
jiwa?
2.
Apa yang dimaksud dengan
jiwa?
3.
Apa itu definisi
pengetian raga?
4.
Apa saja jenis-jenis
jiwa?
5.
Bagaimana membuat kesimpilan
dan saran?
C.
Tujuan
1.
Untuk memahami pengertian dari jiwa.
2.
Untuk mengetahui jiwa.
3.
Untuk memahami pengertian raga.
4.
Untuk mengetahui jenis-jenis jiwa.
5.
Untuk mengetahui cara membuat kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Jiwa
Menurut
pendapat Ibnu Sina, jiwa manusia satu unit yang tersendiri dan menpunyai wujud
terlepas dari badan. Jiwa manusia tidak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dengan
demikian tidak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang
berpikir, yakni jiwa yang masih berhajat pada badan. Dan pendapat ini juga
searah dengan pendapat Aristoteles.
Menurut
Al-Ghazali jiwa disebut sebagai ruh jika ia belum masuk dan berhubungan dengan
tubuh, sedangkan setelah masuk kedalam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya
yaitu daya praktik yang berhubungan dengan badan dan daya teori yang
berhubungan dengan hal-hal yang abstrak.
Ruh
menurut Al-Ghazali terbagi menjadi dua Pertama, yaitu disebut ruh hewani yakni
jauhar yang halus terdapat pada rongga hati jasmani dan merupakan sumber
kehidupan, perasaan, gerak, dan penglihata yang dihubungkan dengan anggota
tubuh seperti menghubungkan cahaya yang menerangi sebuah ruangan.
Kedua,
berarti nafs natiqah, yakni memungkinkan manusia mengetahui segala hakekat yang
ada. Al-Ghazali berkesimpulan bahwa
hubungan ruh dengan jasad merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini
Al-Ghazali mengemukakan hubungan dari segi maknawi karena wujud hubungan itu
tidak begitu jelas.
Menurut
Ibn Qayyim menjelaskan bahwa sebenarnya jiwa manusia itu satu, tetapi memiliki
tiga sifat dan dinamakan dengan sifat yang mendominasinnya.
Pertama, sifat yang bernama nafs Mutmainah
(jiwa yang tenang) karena ketenangannya dalam beribadah, bermahabah, berinabah,
bertawakal, serta keridhohannya dan kedamaiannya kepada Allah. Dengan
firma-Nya: wahai jiwa yang tenang! (Al- Fajr ayat 27)
Kedua,
sifat yang bernama nafs Lawawmah, karena tidak selalu berada pada satu keadaan
dan ia selalu mencela; atau dengan kata lain selalu ragu-ragu, menerima dan
mencela secara bergantian. Debgan firman-Nya: dan aku bersumpa demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri. (Al-Qiyamah
ayat 2)
Ketiga,
nafs yang benrnama Amarah, karena nafsu yang menyuruh kepada keburukan. Dengan
firmannya: sesungguhnya jiwa itu
benar-benar menyuruh kepada keburukan (Yusuf ayat 53)
Jadi,
jiwa manusia merupakan satu jiwa yang terdiri dari Mutmainah, Lawwamah dan
Amarah yang menjadi tujuan kesempurnaan dan kebaikan manusia. Dan pendapat ini
juga searah dengan pendapat Ibn Taimiyah tentang tiga sifat jiwa.
B.
Pengertian Jiwa dan
Raga
Jiwa
merupakan sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga sebaliknya,
yaitu kongkrit, jelas, dan nyata. Gerak jiwa tidak dapat kita amati dengan
panca indra. Sedangkan gerak raga sudah pasti dapat diamati. Namun meski gerak
jiwa itu tidak dapat diamati secara panca indra, namun ia dapat dirasakan.
Bahkan jiwa itulah yang sebenarnya menjadi penggerak dan motorik bagi raga.
Jika demikian, jiwa adalah substansi yang ada dalam diri manusia.
Dalam
analogi lain, kehidupan-kehidupan dunia adalah kongkrit. Sedangkan kehidupan
setelah dunia, yaitu akhirat sifatnya masih abstrak. Mana yang lebih penting
antara kehidupan dunia dan akhirat? Tentu saja akhirat jauh lebih penting
daripada dunia. Kita hidup di dunia hanya untuk mengapdi kepada Tuhan, agar
kita dapa kembali dikehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Jadi, jiwa adalah
sesuatu yang sangat penting dalam diri manusia dibandingkan raga.
C.
Macam dan Jenis
Jiwa
Menurut
Ibnu Sina macam dan jenis jiwa dibagi
menjadi tiga bahagian:
1.
Jiwa tumbuh-tumbuhan, yakni
meliputi beberapa daya;
a. Makan
b. Tumbuh
c. Berkembang
biak
2.
Jiwa binatang, yakni
meliputi beberapa daya;
a. Gerak
b. Menagkap
3.
Jiwa manusia, yakni
meliputi beberapa daya;
a. Praktis
yang hubungannya adalah dengan badan.
b. Teoritis
yang hubungannya adalah dengan hal-hal abstrak.
Dengan demikian, sifat seseorang
bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang
yang berkuasa pada dirinya , maka orang itu dapat menyerupai binatang. Tetapi
jika jiwa manusia yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat
menyerupai Malaikat dan dekat pada kesempurnaan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
1.
Dalam pengetahuan masalah
jiwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah pertama, jiwa manusia
adalah suatu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan.
Kedua, jiwa manusia tidak mempunyai fungsi-fungsi fisik.
2. Jiwa adalah sesuatu yang
abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga adalah sesuatu yang
kongkrit.
3.
Hal-hal yang perlu
dipahami bahwa jiwa memiliki tiga macam sifat yaitu; sifat Lawwama, Amarah, dan Mutmainah. Dan memiliki tiga macam jenis yaitu; Jiwa
tumbuh-tumbuhan, Jiwa binatang, dan
Jiwa manusia.
B.
Saran
1. Untuk memahami pengertian
masalah jiwa diharapkan untuk selalu menyendiri, bepikir, dan
menjalangkan
sifat-sifat agung.
2. Kami mengharapkan para
pembaca atau pendengar dapat meningkatkan pengetahuannya dalam
berpikir tentang
masalah jiwa.
DAFTAR PUSTAKA