Selasa, 20 Mei 2014

Makalah Ilmu Filsafat



MAKALAH
DASAR-DASAR FILSAFAT
MASALAH JIWA

Dosen pembimbing : Bambang Setyobudi, SE, M



KELOMPOK 10
1.               SARIF IDIGANIR                      (2313028)
                          2.               ACHMAD JOUHARI                 (7311007)
3.               BAIQ AYU IDA KHOLIDA       (7311044)
4.               ISWATUN HASANAH               (7311027)



PRODI  S1 PENDIDIKAN DAN SASTRA
FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG 2014



KATA PENGANTAR

Tiada kata yang lebih mulia selain ungkapan puji syukur alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah DASA-DASAR FILSAFAT tentang “MASALAH JIWA” ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan guna memenuhi tugas yang diberikan oleh Bambang Setyobudi, SE, M, selaku dosen pembimbing ini.
Tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada referensi, buku dan media massa yang berhubungan dengan system endokrin yang telah membantu dalam penyusun makalah ini hingga selesai dan juga kami ucapkan banyak terima kasih atas pemberian tugas ini, karena kami dapat lebih memahami. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami sendiri dan para pembaca pada umumnya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dan para pembaca sehingga dapat membantu kearah perubahan yang lebih baik di kemudian hari.


Jombang, Maret 2014







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................
A.        Latar belakang..........................................................................................................
B.        Rumusan masalah....................................................................................................
C.        Tujuan.......................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................
A.        Pengertian Jiwa........................................................................................................
B.        Pengertian Jiwa dan Raga........................................................................................
C.        Macam dan Jenis Jiwa .............................................................................................
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................................................
A.       Kesimpulan............................................................................................................
B.       Saran .....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................







BAB I
PENDAHULUAN

A.                 Latar Belakang

Pengertian jiwa acap kali menjadi masalah bagi seseorang yang sering mencobah menelusuri dengan berbagai cara seperti kesibukan ibadah, berpikir atau bertapa untuk mencari kebenaran tentang masalah jiwa. Namun terkadang, setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mencari tentang masalah jiwa belum juga dipahami, karena jiwa sangatlah halus untuk kita ketahui.
Pengertian jiwa terkait dengan sifat. Seperti yang kita ketahui, bahwa sifat merupakan hal yang paling menonjol di dalam kehidupan manusia. Namun sifat tersebut tidak dapat kita lihat, tetapi dapta kita pahami. Untuk memahami pengertian tentang jiwa memang tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak cukup jika kita hanya kesibukan beribadah, bertapa, maupun berpikir, sebab pengetahuan tentang jiwa akan terungkap jika kita selalu mempraktekan sifat-sifat yang baik.
Oleh karena itu, kami sebagai kelompok 10 mencoba menyusun suatu pengetahuan mengenai bagaimana mengidentifikasikan masalah jiwa.

B.                  Rumusan masalah

1.    Apa itu definisi pengertian jiwa?
2.    Apa yang dimaksud dengan jiwa?
3.    Apa itu definisi pengetian raga?
4.    Apa saja jenis-jenis jiwa?
5.    Bagaimana membuat kesimpilan dan saran?

C.               Tujuan

1.      Untuk memahami pengertian dari jiwa.
2.      Untuk mengetahui jiwa.
3.      Untuk memahami pengertian raga.
4.      Untuk mengetahui jenis-jenis jiwa.
5.      Untuk mengetahui cara membuat kesimpulan dan saran.

BAB II
PEMBAHASAN

A.                 Pengertian Jiwa

Menurut pendapat Ibnu Sina, jiwa manusia satu unit yang tersendiri dan menpunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia tidak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dengan demikian tidak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berpikir, yakni jiwa yang masih berhajat pada badan. Dan pendapat ini juga searah dengan pendapat Aristoteles.

Menurut Al-Ghazali jiwa disebut sebagai ruh jika ia belum masuk dan berhubungan dengan tubuh, sedangkan setelah masuk kedalam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya yaitu daya praktik yang berhubungan dengan badan dan daya teori yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak.

Ruh menurut Al-Ghazali terbagi menjadi dua Pertama, yaitu disebut ruh hewani yakni jauhar yang halus terdapat pada rongga hati jasmani dan merupakan sumber kehidupan, perasaan, gerak, dan penglihata yang dihubungkan dengan anggota tubuh seperti menghubungkan cahaya yang menerangi sebuah ruangan.
Kedua, berarti nafs natiqah, yakni memungkinkan manusia mengetahui segala hakekat yang ada.  Al-Ghazali berkesimpulan bahwa hubungan ruh dengan jasad merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini Al-Ghazali mengemukakan hubungan dari segi maknawi karena wujud hubungan itu tidak begitu jelas.

Menurut Ibn Qayyim menjelaskan bahwa sebenarnya jiwa manusia itu satu, tetapi memiliki tiga sifat dan dinamakan dengan sifat yang mendominasinnya.
 Pertama, sifat yang bernama nafs Mutmainah (jiwa yang tenang) karena ketenangannya dalam beribadah, bermahabah, berinabah, bertawakal, serta keridhohannya dan kedamaiannya kepada Allah. Dengan firma-Nya: wahai jiwa yang tenang!  (Al- Fajr ayat 27)

Kedua, sifat yang bernama nafs Lawawmah, karena tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu mencela; atau dengan kata lain selalu ragu-ragu, menerima dan mencela secara bergantian. Debgan firman-Nya: dan aku bersumpa demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri. (Al-Qiyamah ayat 2)
Ketiga, nafs yang benrnama Amarah, karena nafsu yang menyuruh kepada keburukan. Dengan firmannya: sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada keburukan (Yusuf ayat 53)

Jadi, jiwa manusia merupakan satu jiwa yang terdiri dari Mutmainah, Lawwamah dan Amarah yang menjadi tujuan kesempurnaan dan kebaikan manusia. Dan pendapat ini juga searah dengan pendapat Ibn Taimiyah tentang tiga sifat jiwa.

B.                  Pengertian Jiwa dan Raga

Jiwa merupakan sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga sebaliknya, yaitu kongkrit, jelas, dan nyata. Gerak jiwa tidak dapat kita amati dengan panca indra. Sedangkan gerak raga sudah pasti dapat diamati. Namun meski gerak jiwa itu tidak dapat diamati secara panca indra, namun ia dapat dirasakan. Bahkan jiwa itulah yang sebenarnya menjadi penggerak dan motorik bagi raga. Jika demikian, jiwa adalah substansi yang ada dalam diri manusia.

Dalam analogi lain, kehidupan-kehidupan dunia adalah kongkrit. Sedangkan kehidupan setelah dunia, yaitu akhirat sifatnya masih abstrak. Mana yang lebih penting antara kehidupan dunia dan akhirat? Tentu saja akhirat jauh lebih penting daripada dunia. Kita hidup di dunia hanya untuk mengapdi kepada Tuhan, agar kita dapa kembali dikehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Jadi, jiwa adalah sesuatu yang sangat penting dalam diri manusia dibandingkan raga.

C.                  Macam dan Jenis Jiwa

Menurut  Ibnu Sina macam dan jenis jiwa dibagi menjadi tiga bahagian:
1.            Jiwa tumbuh-tumbuhan, yakni meliputi beberapa daya;
a.      Makan
b.      Tumbuh
c.       Berkembang biak
2.            Jiwa binatang, yakni meliputi beberapa daya;
a.      Gerak
b.      Menagkap
3.            Jiwa manusia, yakni meliputi beberapa daya;
a.      Praktis yang hubungannya adalah dengan badan.
b.      Teoritis yang hubungannya adalah dengan hal-hal abstrak.

         Dengan demikian, sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berkuasa pada dirinya , maka orang itu dapat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai Malaikat dan dekat pada kesempurnaan.


















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.           Kesimpulan

1.      Dalam pengetahuan masalah jiwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah pertama, jiwa    manusia adalah suatu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Kedua, jiwa manusia tidak mempunyai fungsi-fungsi fisik.
2.      Jiwa adalah sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga adalah sesuatu yang 
      kongkrit.
3.      Hal-hal yang perlu dipahami bahwa jiwa memiliki tiga macam sifat yaitu; sifat Lawwama,  Amarah, dan Mutmainah.  Dan memiliki tiga macam jenis yaitu; Jiwa tumbuh-tumbuhan, Jiwa binatang, dan 
      Jiwa manusia.

B.            Saran

1.  Untuk memahami pengertian masalah jiwa diharapkan untuk selalu menyendiri, bepikir, dan  
    menjalangkan sifat-sifat agung.
2.  Kami mengharapkan para pembaca atau pendengar dapat meningkatkan pengetahuannya dalam
    berpikir tentang masalah jiwa.












DAFTAR PUSTAKA